Rental Pregio Bandung | Rental Mobil di Bandung

Kendaraan jenis Pregio merupakan kendaraan jenis penumpang dengan kapasitas tempat duduk 12 seats sangat cocok bagi anda, yang ingin melakukan perjalanan untuk berbagai keperluan, baik perjalanan wisata, dinas, atau acara – acara resmi lainnya. Kami Megahrental sebagai salah satu rental mobil di Bandung, menyediakan kendaraan jenis Pregio, dengan kendaraan yang terawat baik, serta sopir yang berpengalaman dan profesional dengan harga rental mobil yang murah dan terjangkau, menjadikan semua perjalanan anda akan terasa aman, nyaman, serta efektif dan efesien. Kami memberikan layanan perjalanan didalam kota Bandung (city tour), atau perjalanan keluar kota Bandung.

Layanan didalam kota Bandung (city tour):

  • Gunung Tangkuban Parahu
  • Sari Ater
  • Dusun Bambu
  • Kampung Daun
  • Taman Ir. H. Djuanda
  • De Ranch
  • Floating Market
  • Pasar Baru
  • Seputar Factory outlet jl. Riau dan Dago
  • Kawah putih
  • Situ Patenggang
  • Petik Strawbery

dan masih banyak lagi tempat wisata di Bandung yang dapat anda kunjungi.

Rental mobil Pregio Bandung dengan harga murah dan terjangkau

Rental mobil Pregio Bandung dengan harga murah dan terjangkau

Alamat kami: Komp. Graha Rancamanyar jl. Tulip no. 20 Bandung.

email: dadan.sujana03@gmail.com

telp: 082130175579 / 087823400733

Kepuasan anda adalah tujuan kami

WILMA RUDOLF

Memecahkan Rekor Olimpiade Berkat Keyakinannya

Wilma Rudolf lahir pada 23 Juni 1940 di Tenesse, Amerika Serikat. Karena lahir prematur, bayi Rudolf sangat kecil dan lemah. Pada waktu lahir, beratnya hanya 1,7 kg. Rudolf mempunyai banyak saudara, baik kandung maupun tiri, karena ia merupakan anak ke-20 dari 22 bersaudara dari dua kali pernikahan ayahnya. Sebagai seorang kulit hitam, Rudolf juga mengalami pahitnya isu rasisme. Rudolf bahkan sudah merasakan diskriminasi rasial ini sejak ia pertama kali melihat dunia. Hampir semua rumah sakit yang ada di Tenesse hanya bersedia menangani bangsa kulit putih. Orang-orang negro macam Rudolf, nanti dulu. Setelah Rudolf tumbuh menjadi anak-anak, ia mulai paham dengan pemandangan rasisme yang menimpa ia dan keluarganya. Keluarganya dianggap sebagai warga “kelas dua” dan hanya bisa mendapatkan pekerjaan-pekerjaan sebagai bawahan. Ayahnya Ed Rudolf, bekerja sebagai kuli angkut di stasiun. Ibunya, Blance Rudolf, seperti halnya para wanita negro di Amerika pada waktu itu, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Meskipun sudah bekerja membanting tulang, namun pendapatan keduanya tak mampu mencukupi kebutuhan 22 anaknya. Kehidupan mereka nampak sangat miskin.

Meskipun harus tinggal dengan saudaranya yang berjumlah banyak, Rudolf tinggal di sebuah rumah kecil. Keadaan ekonomi yang melilit juga sudah pasti membuat mereka harus mau makan seadanya. Meskipun begitu, Rudolf yakin bahwa nasib bisa diubah. Ia kemudian memotivasi dirinya untuk lekas keluar dari jurang kemiskinan yang membelenggunya. Olahraga adalah jalan yang dipilih untuk mewujudkan keyakinannya tersebut. Dalam autobiografinya, ia menulis, “…maka saya mulai kesal pada semua hal, melawan segala cara baru, yaitu dengan dendam. Saya seperti mendapat semangat kompetisi saat itu juga, semangat yang membuat saya sukses di bidang olahraga.”

Melumpuhkan Kekurangan dengan Keyakinan

Ketika Rudolf menyatakan keyakinannya akan mampu mewujudkan keinginannya keluar dari belenggu kemiskinan melalui jalur olahraga, banyak orang menertawakannya. Mungkin sebagian orang menganggap tekad Rudolf menjadi seorang atlet akan menjadi semacam yang tidak mungkin. Hal itu dikarenakan beberapa penyakit yang diderita Rudolf sejak masih anak-anak. Ketika berusia 4 tahun, Rudolf menderita polio. Dokter juga sempat mengatakan bahwa Rudolf tidak akan pernah bisa berjalan. Semua bermula ketika Rudolf yang pada waktu itu berusia 4 tahun mendadak diserang berbagai penyakit dalam satu waktu. Penyakit biduran, gondok, cacar air, demam skarlatina, dan pneumonia ganda menyerang dalam waktu bersamaan. Rudolf menderita demam tinggi yang tak kunjung sembuh. Kakinya melemah dan bentuknya terlihat tidak normal, terutama yang sebelah kanan. Melihat kondisi anaknya yang semakin memprihatinkan, ibunya segera melarikan Rudolf ke rumah sakit. Dokter bilang Rudolf menderita polio.

Di tahun 1940-an, polio masih tergolong penyakit berbahaya yang belum ditemukan obatnya. Dokternya bahkan sempat merasa heran karena Rudolf masih bisa bertahan hidup dengan beragam penyakit yang menyerangnya. “Ajaib bahwa Wilma Rudolf masih hidup dalam kondisi seperti ini. Ia beruntung karena polio tersebut hanya menyerang kakinya. Biasanya penyakit ini dapat menyebar ke paru-paru atau menyerang sistem syaraf. Tetapi berita buruknya, Wilma Rudolf tak akan bisa berjalan normal pada sisa hidupnya. Ia menderita kelumpuhan. Kata-kata yang keluar dari mulut dokter Rudolf pada waktu itu seolah menjadi sambaran petir bagi ibunya. Tak bisa menerima kenyataan dengan begitu saja, ibunya bahkan meyakini bahwa ada yang keliru dengan diagnosa yang dilakukan dokter. Putrinya pasti sembuh dan bisa berjalan seperti anak-anak lain. Begitu Blance Rudolf berulang kali meyakinkan dirinya sendiri. “Dokter berkata bahwa saya tidak akan pernah bisa berjalan, tapi ibu saya meyakinkan saya akan dapat melakukannya. Maka saya percaya pada ibu saya,” tulis Rudof.

Tak tahan melihat penderitaan anaknya, ibunya akhirnya membawa Rudolf ke rumah sakit Mehari, sebuah kampus kedokteran untuk warga kulit hitam di Fisk University, Nashville. Ibunya kemudian memutuskan untuk melakukan terapi yang diprogram khusus untuk menguatkan kaki anaknya di rumah sakit ini. Meskipun, Rudolf dan ibunya harus menempuh jarak 80 km untuk terapi di rumah sakit tersebut, mereka menjalaninya dengan tekun sebanyak dua kali seminggu selama 4 tahun. Itu berarti Rudolf harus mengikuti terapi fisik yang sangat menyakitkan selama berjam-jam.

Meskipun lumpuh, Rudolf tetap ingin merasakan bangku sekolah seperti anak-anak yang lain. Ia selalu iri ketika melihat kakak-kakaknya berangkat dan pulang sekolah, membicarakan teman sekolah yang kadang usil pada guru. Keinginan Rudolf untuk bersekolah akhirnya terkabul ketika pada usia 6 tahun kakinya dipasangi penyangga metal sebagai alat bantu jalan. Lama kelamaan, Rudolf merasa penyangga kakinya justru menyiksanya karena membuatnya tak bebas bergerak, Rudolf ingin berjalan dengan kekuatan kakinya sendiri. Meskipun sakit dan merasa terlalu sulit, tapi Rudolf yakin bahwa ia pasti bisa berjalan tanpa penyangga asalkan ia mau melatih kakinya. Setahap demi setahap, keyakinan Rudolf mulai menampakkan hasil. Perlahan ia mulai bisa berjalan. Ketika ia berusia 9 tahun, penyangga kakinya dilepas. Ia yakin bisa berjalan mandiri tanpa bantuan alat penyangga. Keyakinan Rudolf terbukti dengan membuat gempar gereja tempatnya beribadah. Suatu ketika, saat melakukan kebaktian Minggu pagi, Rudolf berjalan melewati bangku-bangku dan membuat semua orang heran. Saat itu Rudolf hanya berjalan menggunakan kakinya, tanpa penyangga. Setelah hari yang mengejutkan itu, Rudolf terlihat seperti anak-anak lainnya. Ia pergi sekolah, bermain sepeda, dan berlari-lari bersama temannya.

Ketika berusia 11 tahun, kakak laki-lakinya mengajak Rudolf ke lapangan basket. Ia menonton anak-anak di sana melempar bola kedalam ring. Saat ia bertanya kepada ibunya apakah yang dimainkan kakaknya, sang ibu menjawab, “Itu adalah basket, basket, basket.” Rudolf tertarik dengan basket dan hampir setiap sore ia memainkannya. Ia belajar dari kakak dan temannya bagaimana caranta dribble, pass, dan shoot. Setelah mulai bisa, ia merasa mencintai permainan basket. Di SMP, ia bergabung dengan tim basket sekolah. Pelatihnya Clinton Gray mengijinkan Rudolf masuk dalam tim, namun ia tidak pernah di beri kesempatan untuk bermain. Ia hanya disuruh duduk di pinggir lapangan dan memperhatikan teman-temannya bermain. Ia bahkan tidak di beri seragam. Hal ini berlangsung selama tiga tahun. Selama tiga tahun bersekolah, ia hampir tidak ikut bermain dalam pertandingan-pertandingan yang diikuti tim sekolahnya.

Rudolf tidak putus asa. Kecintaannya pada olahraga, terutama basket, membuatnya tidak bisa menyerah begitu saja. Saat menginjak SMA, mulai terlihat jalan terang. Di SMA Burt, sebuah sekolah khusus anak-anak kulit hitam. ia mendapat kepercayaan untuk ikut bermain. Untunglah ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia bermain sangat cemerlang, bahkan menjadi bintang, memecahkan rekor negara bagian dengan mencetak 49 poin dalam satu pertandingan. Pelatih memanggil Rudolf dengan julukan skeeter. “Kau kecil, kau berlari cepat, dan kau menarik perhatianku,” ucapnya kala itu. Dan terbukti, pelatih tak asal melontarkan pujian. Rudolf membawa timnya ke final kejuaraan basket negara bagian. Walaupun di final timnya mengalami kekalahan, tetapi aksinya menarik perhatian Ed Temple, seorang pelatih lari dari Tenesse State University. Ia mengajak Wilma bergabung dengan tim lari unggulan di daerah tersebut, Tigerbelles.

Di situlah segalanya bermula. Dari tangan Ed Temple kemudian kita mengenal peraih tiga medali emas dai cabang lari olimpiade Roma pada tahun 1960: Wilma Rudolf. Wanita negro ini menyabet emas di olimpiade Roma pada kejuaraan lari jarak pendek 100 meter, 200 meter, dan estafet 400 meter. Kemenangan tersebut mengalahkan rekor-rekor terbaik dunia pada saat itu. Saat sudah berhasil mencapai kesuksesan, Rudolf tak pernah mengingkari bahwa pencapaiannya itu diraihnya karena tak pernah meremehkan kekuatan mimpi. “Never underestimate the power of dreams and the influence of the human spirit. We are all the same in this notion. The potential for greatness lives within each of us.” Rudolf membuktikan apa yang dikatakannya. Awalnya, sulit dipercaya jika seseorang yang dimasa kecilnya tak menyangka akan bisa berjalan, ternyata bisa menjadi pelari wanita tercepat.

Setelah melewati bertahun-tahun perjuangan, mimpi Rudolf terwujud. Saat terbaring lemas di tempat tidur, ia memilih untuk tidak mempercayai apa yang menurut banyak orang, termasuk dokter, tidak mungkin terjadi. Rudolf membuat banyak keajaiban. Saat ia mulai menjejakkan kakinya tanpa penyangga metal, Ia membuat semua orang terkagum-kagum. Ia mencuri banyak perhatian dibandingkan saat di gereja: seluruh pasang mata dunia. Dan lalu, ia sekali lagi menggemparkan dunia dengan menjadi juara olimpiade. Berkat keyakinannya, Rudolf yang lumpuh bisa menjadi juara. Ia juga mampu menunjukkan pada dunia bahwa tidak hanya kulit putih yang bisa berprestasi. Kaum negro pun punya kesempatan dan peluang yang sama.

YAO MING

Keyakinan Menghapus Kelemahan Fisiknya

Yao Ming lahir pada 12 september 1980 di Shanghai, Cina. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Yao Zhiyuan dan Fang Fengdi. Sejak dilahirkan, Yao Ming sudah menyita banyak perhatian orang. Ia lahir dengan bobot berat badan 5 kg. Padahal, rata-rata berat bayi yang baru lahir di Cina hanya setengah berat Yao Ming. Sesuai dengan adat kebiasaan yang dianut di Cina, ayahnya memberi makan bayi Yao Ming dengan huang lian yaitu sup yang rasanya pahit sekali sebagai makanan pertama Yao Ming. Penduduk di Cina percaya jika si anak lebih baik merasakan kepahitan terlebih dahulu supaya kelak bisa mensukuri nikmat yang didapatkan di kemudian hari. “Menurut ayahku hal itu merupakan kebiasaan lokal pada waktu itu. Anak-anak yang merasakan “kepahitan” lebih dahulu akan lebih mensyukuri nikmat yang akan mereka dapatkan kelak.”

Huang lian tidak hanya membuat Yao ming merasakan makanan terpahit, namun juga membuatnya tumbuh ajaib. Ketika baru berusia 4 tahun, tinggi badan Yao Ming sudah mencapai 1 meter. Wajar saja, karena Yao Ming punya selera makan yang luar biasa. Yao Ming yang masih anak-anak bisa menghabiskan 3 porsi makanan yang disediakan ibunya, 1 porsi tidak pernah akan membuatnya kenyang. Jika sudah demikian, tak jarang ayah ibunya akan mengurangi porsi makan mereka untuk diberikan pada Yao Ming. Mengingat kondisi pangan Cina yang pada saat itu sedang paceklik, nafsu makan Yao Ming terkadang memberatkan keluarganya. Ibu Yao Ming kadang harus pergi ke toko-toko makanan di saat akan tutup untuk membeli sisa-sisa dagangan mereka dengan harga yang murah.

Menginjak usia 10 tahun, tinggi badan Yao Ming sudah menyaingi tinggi badan orang dewasa, dengan tinggi badan 165 cm. Seorang dokter pada waktu itu bahkan sempat memperkirakan tinggi badan Yao ming bisa mencapai 220 cm. Dan perkiraan dokter tersebut tepat, ketika dewasa, tinggi badan Yao Ming mencapai 229 cm. Bisa jadi tinggi badan Yao ming ini warisan yang diturunkan kedua orang tua Yao Ming. Tinggi badan ayahnya 208 cm dan ibunya 188 cm.

Meskipun mempunyai tubuh yang ideal sebagai seorang atlet basket, Yao Ming mempunyai beberapa kelainan fisik yang sedikit banyak mengganggu kariernya. Saat berumur 8 tahun, Yao Ming menderita demam lebih dari seminggu. Dokter memvonis Yao Ming mengidap radang ginjal. Tentu saja vonis tersebut membuat keluarganya depresi. Beragam cara dan jenis pengobatan ditempuh guna kesembuhan Yao Ming dari penyakit yang dideritanya sehingga keadaannya mulai berangsur-angsur membaik. Banyaknya obat yang harus dikonsumsi Yao Ming malah mengakibatkan efek samping yang serius. Yao Ming harus kehilangan pendengaran pada telinga. “Aku menderita demam selama sepekan, kemudian orang-orang membawaku ke rumah sakit,” kata Yao ming. “Dokter mengatakan kalau ada masalah pada ginjalku, dan aku harus menerima pengobatan selama beberapa waktu. Setelah sembuh, suatu hari aku berbicara lewat telepon pada ibuku. Aku meletakkan gagang telepon di telinga kiri, setelah memang tidak ada apa-apa. Namun tidak ada suara yang aku dengar waktu itu.”

Meskipun tuli sebagian, Yao Ming tak pernah mundur dari profesionalitasnya sebagai seorang atlet. Ia masih bisa menggunakan pendengaran dari satu telinga saja di saat pertandingan atau latihan sedang berlangsung. “sebenarnya itu tidak terlalu mempengaruhiku selama beberapa tahun. Aku tetap bisa mendengar melalui telinga kanan. Saat makan malam, saat menghadiri rapat, biasanya akau akan selalu duduk di sebelah kiri sehingga semua orang ada di sisi kanan saya. Masalah ini sudah ku alami sejak masih umur delapan tahun,” ujar Yao Ming dalam sebuah wawancaranya dengan The Sporting News. Selain mengalami gangguan fungsi pendengaran, Yao Ming juga memiliki pertumbuhan tulang yang tidak sempurna. Pertumbuhan kedua bahunya agak menyempit. Begitu pula dengan pertumbuhan tulang selangkangannya yang terlalu besar. Hal ini menyebabkan kelincahan dan kelenturan tubuh Yao Ming menjadi tidak optimal. Pergerakannya menjadi agak kaku dan kurang agresif. Parahnya lagi, Yao Ming mempunyai panjang lengan yang tidak proporsional dengan tinggi badannya yang menjulang. Inilah mengapa Yao Ming tidak mempunyai kemampuan dribble yang bagus.

Dalam hal ini, mungkin Yao Ming telah mengamini kalimat George Washington Carver yang mengatakan bahwa 95% kegagalan berasal dari orang yang suka mencari-cari alasan. “Yao Ming tidak mau menjadikan kekurangannya sebagai alasan untuk tidak berprestasi. Bahkan, pelatih dan kawan satu timnya tidak pernah mengetahui bahwa Yao Ming mempunyai asalah dengan fungsi pendengarannya karena permainannya tetap baik seperti manusia normal. Bukan karena malu, tetapi karena ia tidak mau berapologi jika ia tak bisa mencapai permainan terbaiknya. Yao Ming baru mengungkapkan kekurangannya itu beberapa bulan setelah ia memutuskan untuk pensiun. Karier sebagai atlet basket yang dimiliki Yao Ming merupakan warisan dari orang tuanya. Ayahnya adalah anggota tim basket Shanghai Sports dan ibunya merupakan anggota tim nasional basket Cina pada 70-an. Ibunya sudah berkecimpung dalam dunia basket sejak masih remaja. Ia juga starter regular tim basket putri Shanghai di posisi center.

Yao Ming mengaku awalnya tidak begitu berminat berkarier di dunia basket, maupun olahraga lainnya. Karakternya yang dedikit introvert membuatnya lebih suka menghabiskan waktu di kamar ketimbang berkecimpung dalam basket yang membutuhkan banyak interaksi dengan orang lain. “Sewaktu kecil, aku bukanlah seorang yang suka bertualang, aku lebih cenderung moderat. Aku bahkan selalu menempuh jalan yang sama ketika pergi berangkat dan pulang dari sekolahnya,” tuturnya. Yao Ming kecil lebih sering menghabiskan waktunya dengan mambaca dan bermain games. Kecintaannya pada buku membuat Yao Ming memiliki wawasan luas. Ia sangat gemar membaca buku-buku sejarah cina dan kemiliteran. Lu Xuan adalah sastrawan hebat asal Cina yang menjadi penulis favorit Yao Ming.

Yao Ming pertama kali mengenal basket pada usia 9 tahun, orang tuanya sengaja mendaftarkannya ke sekolah olahraga untuk menimba ilmu tentang basket dari pelatih yang hebat. Kedua orang tuanya berharap dengan memiliki kelebihan di bidang basket, kelak Yao Ming akan lebih mudah diterima di Universitas yang favorit. Di Cina, usia 9 tahun memang sudah harus menempuh jenjang sekolah menengah. Yao Ming menghabiskan masa sekolahnya dan giat berlatih untuk mengasah skill-nya. Ia sering menambah sendiri porsi latihannya selama 8 jam dalam sehari. “Setelah berlatih keras dalam suatu hari, duduk-duduk di bangku, lebih-lebih saat masih berkeringat, benar-benar nikmat buatku.” Terus berlatih memang menjadi kunci kesuksesan Yao Ming. Ketika bergabung di Shanghai Sharks, Yao Ming meningkatkan waktu latihannya menjadi 10 jam dalam sehari. Bagi Yao Ming, latihan bukan lagi sebuah aktivitas yang eksklusif. Ia tak menganggap latihan yang melelahkan itu sebagai beban.

Baru 4 tahun di sekolah olahraga, Yao Ming sudah menyita perhatian pemandu bakat Shanghai Sharks, salah satu tim basket asal Shanghai yang berkompetisi dalam CBA (China Basketball Association). Meskipun begitu, Yao Ming yang masih 13 tahun harus menambah latihan untuk mengasah kemampuannya terlebih dahulu di Shanghai Sharks Junior. Di tim junior Sharks, Yao Ming tetap konsisten dengan keyakinannya semula, bahwa keyakinan adalah kunci keberhasilan setiap pertandingan. Ia bahkan menjadi salah pemain muda Sharks yang paling rajin dan bersemangat latihan tim. Begitu juga dengan kedisiplinannya yang masih tetap terjaga meski telah memasuki masa-masa remaja. Motivasi besarnya agar dapat terpilih masuk ke dalam timnas junior Cina juga mendorongnya untuk semakin mengasah skill di tim junior sharks.

Uniknya, Yao Ming remaja sudah punya alasan mengapa ia termotivasi untuk masuk timnas junior, yakni ingin memiliki sepatu basket yang bagus. “Ketika berumur 14 tahun, aku sangat ingin memiliki sepasang sepatu basket yang lebih bagus daripada sepatuku waktu itu. Ketika itu, ada orang yang memberitahuku, kalau aku terpilih masuk tim junior nasional, aku akan dapat memiliki sepatu seperti itu. Maka seketika itu juga, aku bertekad supaya bisa menembus tim junior China.” Kerja keras Yao Ming terbayar lunas. Di tahun 2002/2003, nama Yao Ming masuk dalam daftar draft rookie NBA. Yao Ming kemudian ada di draft pilihan pertama Houston Rockets dan dikontrak dengan US $18 juta dolar untuk jangka waktu 4 musim. Sejak saat itu, perjalanan Yao Ming mengurangi kompetisi basket paling popular sejagad resmi dimulai.

Saat sudah mulai kiprahnya di NBA, Yao Ming segera menyita perhatian banyak orang, termasuk pelatih fisiknya di Houston Rocket. “Bagaimana anda memperlakukan tubuh diri, tubuhnyapun akan membalasmu dengan cara yang serupa.” Kata-kata inilah yang menjadi moto  Yao Ming untuk terus meningkatkan latihan fisik dan menjadikan latihan sebagai hal wajib dalam kesehariannya. Pujian juga diberikan oleh pelatih kepala Houston Rokets. Jeff Van Gundy. “Yao Ming dikaruniai tubuh badan yang tinggi besar, tapi suksesnya berasal dari latihan dan upayanya pada kemudian hari. Keunggulannya daripada pemain lainnya ialah Yao Ming tahu apa yang hendak dilakukannya dan apa yang seharusnya tidak. Hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, mutlak tidak akan dilakukannya, dan itulah manifestasi profesionalisme pada diri Yao Ming.”

Yao Ming memang bukan pemain basket Cina pertama yang berlaga di kompetisi basket sekelas NBA. Meskipun begitu Yao Ming tetap bersyukur dan merasa bangga dengan perolehannya tersebut. “30 tahun yang lalu, orang tuaku tidak pernah berani membayangkan akan ada orang Cina yang menjadi pemain basket di luar negeri. Bahkan hingga 20 tahun yang lalu pun, tak pernah ada orang yang membayangkan ada orang Cina yang bermain di NBA. Kami sama sekali tak berani. Kami cukup bagus untuk itu.” Di awal karier di NBA, Yao Ming sempat dianggap gagal oleh banyak pengamat. Penampilannya yang buruk di musim pertamanya dan ketidaklancaran Yao Ming berbicara dalam bahasa Inggris dinilai akan mempersulit ia beradaptasi dengan kompetisi yang terkenal ketat itu. Meskipun kemampuannya diragukan banyak pihak, Yao Ming tidak pernah menggubrisnya. Masalah-masalah yang dihadapi, mulai dari keterbatasan bahasa, fungsi pendengaran yang tidak normal, hingga struktur tulangnya yang tidak sempurna, justru dijadikan cambuk semangat untuk membuktikan keyakinannya bahwa ia mampu berprestasi. Yao Ming juga tidak pernah menyalahkan keadaannya ketika ia bermain dengan buruk.

“Saya berpendapat, kami kalah di bidang keyakinan diri dan untuk berjuang lebih ulet. Ketika tertinggal 10 angka, sering kami merasa tidak ada harapan lagi dan daya tempur mulai melemah. Padahal kalau kami berjuang dengan sekuat tenaga dan penuh keyakinan, walau bertanding dengan tim Eropa yang paling kuat sekalipun, kami tidak akan tertinggal 10 angka. Ini merupakan sebuah masalah psikologis yang perlu diselesaikan segera. Masalahnya, pada keyakinan diri, bukan pada postur tubuh.”

Semua upaya luar biasa yang dilakukan Yao Ming sejak kecil itu telah terbayar lunas. Yao berhasil mengatasi berbagai kekurangan dan keterbatasannya dan kemudian memetik hasilnya dengan menjadi pemain yang berdiri dengan tangguh di lapangan. Yao Ming menjadi pendobrak pertama stereotipe tentang orang-orang Asia yang dinilai kurang jago dalam basket. Ia juga telah melapangkan jalan bagi pemain-pemain Asia untuk mencoba peruntungannya di ranah NBA.

MUHAMAD YUNUS

Entaskan Kemiskinan Bangladesh dengan mendirikan “Bank Miskin”

Muhamad Yunus lahir pada 28 Juni 1940 di desa Bathua Bengal Timur. Meskipun dikenal sebagai sosok peduli kaum miskin, Yunus lahir dari keluarga yang berkecukupan. Di daerahnya, keluarga Ynunus dikenal kaya raya dan berpendidikan tinggi. Ayahnya, Hazi Dula Mia, adalah seorang penambang emas sukses yang selalu mendorong anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan tinggi.

Karena dipandang sebagai keluarga yang berkecukupan di daerahnya, rumah Yunus sering didatangi orang-orang miskin yang meminta bantuan. Banyak orang miskin datang yang mengetuk pintu rumah Yunus dengan berbagai alasan. Ada yang sekedar ingin meminjam barang ataupun uang. Dalam hal ini, Sufia Katun, ibunya menjadi contoh shahih bagi anak-anaknya tentang bagaimana cara memperlakukan orang-orang miskin. Wanita ini selalu memberi bantuan pada setiap orang miskin yang datang kerumahnya. Pemandangan seperti inilah yang seringkali disaksikan Yunus di masa kecilnya. Dan pemandangan seperti ini juga yang menginpirasi Yuns untuk bisa memberantas kemiskinan di Bangladesh.

Masa kanak-kanak Yunus dihabiskan di desanya hingga ia berusia tujuh tahun. Pada tahun 1947, karena bisnis ayahnya pada waktu itu berkembang pesat, Yunus dan anggota keluarga lainnya diboyong ke kota Chittagong. Yunus melanjutkan sekolah dasarnya di kota baru itu. Selama sekolah, Yunus tergolong siswa yang sangat cerdas. Ia sekolah di Chittaong Collegiate School. Otaknya yang cemerlang juga membuat Yunus meraih beasiswa gelar PhD bidang ekonomi di Vaderbilt University Graduate Program in Economic Development (GPED) pada tahun 1965.

Pasca lulus kuliah, Yunus menjadi dosen di universitas tempat ia dulu menimba ilmu, Chittagong University. Selain itu, ia juga menjadi seorang ekonom Bangladesh. Karena mengajar ilmu ekonomi, tak jarang bersama mahasiswanya ia melakukan studi lapangan tentang keadaan ekonomi penduduk kelas menengah ke bawah di Bangladesh. Pada suatu kesempatan di tahun 1974, bersama para mahasiswanya Yunus berkunjung ke Desa Jobra, salah satu desa miskin di Bangladesh. Di desa tersebut mereka mewawancarai seorang wanita pengrajin bambu.

Dari hasil wawancaranya itu, Yunus melihat adanya potensi luar biasa yang bisa dikemangkan dari pengrajin bambu tersebut. Sayangnya, pengrajin tersebut tidak dapat mengembangkan usahanya karena terganjal masalah modal. Yunus mengetahui bahwa pengrajin wanita itu hanya membutuhkan pinjaman dengan jumlah kecil untuk membeli bambu. Sedangkan, tak ada tempat yang bisa dijadikan rujukan meminjam modal. Bank-bank tradisional tak mau memberi pinjaman jumlah kecil, apalagi dengan bunga yang rendah.

Wanita pengrajin tadi, seperti halnya para wanita yang lainnya di daerah tersebut, kebanyakan meminjam uang pada rentenir. Hutang semacam ini bukannya memuat mereka berkembang, namun malah semakin mencekik roda keuangan mereka karena para rentenir memberikan bunga yang melambung, yakni 10% per minggu. Yunus menyadari ada sesuatu yang salah dari sistem ekonomi yang diterapkan di negaranya selama ini. Ia kemudian mempunyai ide untuk memberikan pinjaman pada para penduduk miskin untuk digunakan sebagai modal bekerja. Menurut Yunus, itulah satu-satunya cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan di negaranya. Cara mengentaskan kemiskinan bukanlah memberi uang bantuan dengan cuma-cuma seperti yang selama ini dilakukan pemerintah, namun dengan memberikan rakyat miskin modal.

Pada mulanya, sangat susah untuk mengajak bank-bank besar ataupun perusahaan untuk memberikan pinjaman pada rakyat miskin. Kebanyakan bank itu tidak percaya para peminjam miskin nantinya akan bisa mengembalikan pinjamannya. Karena belum mampu menghimpun modal dari bank ataupun perusahaan manapun untuk dijadikan pinjaman rakyat miskin, Yunus berinisiatif memberi pinjaman dari kantongnya sendiri. Saat itu Yunus memberi pinjaman US $27 pada 42 orang perempuan di desa tersebut.

Tujuan Entaskan Kemiskinan

Yunus menemukan bahwa pinjaman dengan jumlah kecil dan bunga yang masuk akal tidak hanya membantu kaum miskin bertahan hidup, tapi juga mampu menimbulkan inisiatif para pelaku usaha untuk keluar dari belenggu kemiskinan. Pada tahun 1976, Yunus akhirnya mendapat pinjaman dari Janata Bank untuk dipinjamkan pada orang miskin. Setelah berjalan beberapa tahun, program Yunus berkembang pesat. Pada tahun 1982 program yang dirintisnya telah berhasil merekrut 28000 peminjam dari kalangan miskin. Karena dinilai usahanya semakin membesar, pada 1 Oktober1983 bersama rekan seperjuangannya Yunus mendirikan Grameen Bank.

Secara harfiah, Grameen Bank berarti “bank miskin” yang bisa diartikan sebagai bank untuk rakyat miskin. Pembangunan bank ini didasarkan pada prinsip-prinsip kepercayaan dan solidaritas. Grameen Bank fokus memberikan pinjaman kepada masyarakat miskin, khususnya kaum perempuan dengan jumlah kecil dan bunga rendah. Sejak mendirikan Grameen Bank, Yunus menerapkan filosofi, Tidak memberi ikan melainkan memberi pancing kepada kaum papa untuk mencari ikan sendiri. Yunus tidak memberikan uang dengan cuma-cuma, namun meminjamkan modal uasaha.

Perintisan Grameen Bank mendapat berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesarnya di antaranya adalah untuk meyakinkan masyarakat bahwa pinjaman dari Grameen Bank halal, karena ada pemuka agama yang menyatakan uang dari Grameen Bank haram diterima. Berbagai tantangan dihadapi Yunus dengan tujuan memberantas kemiskinan di negaranya. “Ketika kami merancang kredit mikro, tujuannya adalah untuk membantu orang keluar dari kemiskinan, tetapi beberapa orang menjauh dari motivasi tersebut. Namun, kami yakin menjangkau kelompok orang yang miskin, para wanita, mereka semua dapat bekerja jika dierikan kepercayaan,” ujarnya pada New York Times, April 2013 lalu.

Untuk menjamin pemayaran pinjaman para nasabahnya, Grameen Bank menerapkan sistem “kelompok solidaritas”. Para peminjam akan meminjam secara berkelompok. Masing-masing kelompok mengajukan permohonan pinjaman bersama-sama. Para anggota kelompok bertindak sebgai mitra penjamin sesamanya. Dengan begitu, setiap anggota akan mendukung satu sama lain membayar pinjaman dan meningkatkan ekonomi keluarga mereka. Peminjam juga diharuskan membayar cicilan setiap hari supaya peminjam tidak merasa keberatan membayar hutangnya. Hasilnya luar biasa, Grameen Bank saat ini memiliki 8,4 juta peminjam di mana 96% diantaranya adalah wanita.

Grameen Bank memang mengutamakan pemberdayaan wanita miskin dan pengemis di negaranya. Kedua kalangan inilah yang didorong kuat untuk menjadi wirausaha. Awalnya, Yunus menemukan fakta bahwa di Bangladesh wanita sulit memperoleh pinjaman. Padahal, menurut pembacaan Grameen Bank, peranan wanita dalam mengelola uang sangat efektif. Wanita lebih terlatih mengelola keuangan keluarga yang sebelumnya hanya mengandalkan pendapatan suami. Sekian tahun berjalan, jumlah peminjam pria dan wanita di Grameen Bank hampir seimbang.

Langkah memprioritaskan peminjam wanita tidak berarti peminjam pria lebih buruk dalam mengembalikan pinjaman. Keduanya sama-sama mampu mengembalikan pinjamannya sesuai ketentuan. “Saya pinjamkan uang ke wanita miskin sebesar US $30 dan saat mereka menerima uang tersebut ia bergetar, menggigil karena tidak percaya menerima uang sebesar itu seumur hidupnya. Dan saat ia merasa ada orang yang mempercayakannya menerima pinjaman uang, ia akan menjaga kepercayaan tersebut seumur hidupnya.”

Mengubah mental pengemis menjadi wirausaha memang tidak mudah. Namun, saat diberi kepercayaan dan kesempatan mengubah hidupnya, orang-orang ini akan mengerahkan seluruh kemampuannya. “Jangan paksa mereka untuk berhenti mengemis dalam semalam karena itu merupakan inti bsnis mereka.” Berkat program ini, sekitar 47 ribu pengemis berhenti meminta-minta dan telah beralih menjadi penjual barang atau makanan yang menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu. “Dan kepada para pengemis, kami berikan pinjaman US $4-10 per orang. Saya katakan, uang ini dibelikan aksesoris dan makanan sehingga anda mempunyai barang untuk usaha.”

Puluhan ribu desa di Bangladesh juga sudah dirambah Grameen Bank. Dengan ribuan pegawai, bank itu berkembang bahkan mampu memberikan pinjaman hingga miliaran dolar Amerika. Selain itu, Yunus juga mengembangkan berbagai bentuk usahanya dengan mendirikan Grameen Phone, sebuah operator seluler terbesar di Bangladesh yang sebagian besar pelanggannya merupakan rakyat miskin. Mengingat pentingnya pendidikan dan tingginya angka buta huruf di negerinya, melalui Grameen Bank Yunus juga merencanakan beberapa program yang bertujuan mengentaskan  buta huruf di Bangladesh. Hasilya, semua nasabah Grameen Bank sudah bisa membaca dan semua anak nasabah bisa sekolah. Grameen Bank juga menyediakan dana pinjaman biaya pendidikan untuk siswa berprestasi.

Yunus menyebut Grameen Bank sebagai bisnis sosial yang jauh dari kapitalisme mencari laba. Ia mengabaikan keuntungan pribadi dan fokus mengembangkan kehidupan rakyat miskin. “Perusahaan memperoleh laba, namun laba tetap dengan perusahaan. Pemilik hanya akan mendapatkan kembali investasi awal, tidak lebih. saya tidak mengatakan untuk menjauh dari keuntungan, tetapi memisahkan dan menjalankan secara pararel.” Model pengembangan ini  ditiru berbagai lembaga keuangan dunia. Sekitar 40 negara di penjuru dunia membuat proyek yang mirip dengan Grameen Bank, termasuk bank dunia yang memprakarsai skema pembiayaan Grameen Bank ke seluruh dunia.

Saat sudah sukses, tantangan-tantangan baru tak juga surut menyertai perjalanan Yunus mengembangkan Grameen Bank. Sebagai mana dilansir BBC, pada Maret 2011 lalu, bank sentral yang memiliki 25% saham di Grameen Bank memecat Yunus sebagai direktur pelaksana Grameen Bank. Alasan pemecatan tersebut dikarenakan bank sentral menilai bahwa Yunus melanggar undang-undang pensiun dengan tetap memimpin Grameen Bank di usia 70 tahun, padahal batas wajib pensiun di Bangladesh adalah 60 tahun. Alasan lain yang dilontarkan bank sentral adalah Yunus tidak mendapat persetujuan pemerintah ketika ditunjuk sebagai direktur pelaksana pada 1999 lalu.

Yunus berusaha melawan pemecatan tersebut dengan mengajukan gugatan, namun ditolak Mahkamah Agung. “Sepertinya tujuan pemerintah mau mengambil alih Grameen Bank sepenuhnya. Mereka membentuk komisi dan mengusulkan saham peminjam bukanlah pemilik bank sebenarnya. Dewan bank yang terdiri dari tiga wakil pemerintah dan semilan wakil oleh peminjam diberhentikan oleh komisi karena aturan pemilihan dewan cacat,” komentar Yunus terkait pemecatannya.

Meskipun pada akhirnya Yunus terpaksa melepaskan jabatannya, ia sudah membuktikan kesuksesannya dengan jalan mewujudkan tujuan hidupnya. Berkat perjuangan tanpa lelah selama lebih dari 30 tahun mengentaskan kemiskinan, ia mendapat berbagai penghargaan. Pada tahun 2006 lau, Yunus mendapat penghargaan Nobel perdamaian. Ia juga meraih penghargaan Predential Medali of Freedom, Congressional Gold Medal, hadiah budaya asia Fukuoka XII 2001 dan lain-lain.

Secara finansial, Yunus pun sukses mengembangkan bisnisnya sehingga ia tidak pernah kekurangan materi. Namun, bagi Yunus kesuksesan bukanlah semata uang. Lebih dari itu, dalam hal ini Yunus sepakat dengan kata-kata Donald Trump bahwa kesuksesan terletak pada tingkat kebahagiaan. Yunus bahagia karena bisa menghasilkan uang. Dan ia lebih bahagia karena berhasil membuat orang lain bahagia. “Menghasilkan uang merupakan kebahagiaan dan merupakan pencipta semangat yang luar biasa, namun membuat orang lain bahagia itu kebahagiaan luar biasa dan lebih menarik dari pada menghasilkan uang,”  Kata Yunus di depan miliuner dunia yang diselenggarakan PBB awal bulan Juli 2013.

HENRY FORD

Wujudkan Impian “Mobil Rakyat”

Henry Ford lahir dari keluarga petani sederhana di Dearborn, Michigan, Amerika Serikat pada 30 juli 1863. Ia seorang pelopor industri otomotif yang sukses berkat keberaniannya dalam bermimpi. Tidak hanya menjadi “pemimpi yang terus tidur”, Ford melakukan bermacam cara untuk mewujudkan mimpi besarnya. Ia tidak berpangku tangan dan berandai-andai kapan seorang dewi turun dari langit meniup berkat yang diimpikannya. Ia bukan pemimpi kosong, melainkan bertindak untuk mewujudkan mimpinya. “Rahasia kehidupan yang sukses adalah menemukan peran yang ditakdirkan untuk diri Anda dan menjalaninya,” ujarnya.

Impian Ford lahir dari ketertarikannya pada semua hal tentang mesin. Sejak kecil, Ford memang punya keingintahuan yang besar pada cara kerja mesin. Tanpa komando dari siapapun, ia mempelajari cara kerja mesin uap, jam, dan mesin pembakaran. meskipun terlahir dari kandungan ibu seorang petani, Ford tidak percaya unsur gen sebagai penentu kesuksesan. Ia kukuh mempelajari dunia mesin, apapun dan dimanapun ia bisa. Karena tinggal di desa, Ford seringkali sengaja bepergian ke pinggiran kota dan menawarkan jasa reparasi gratis hanya agar ia bisa mengutak-atik mesin. Ia rela menjadi montir dan tukang jam supaya bisa mempelajari mesin lebih dalam. Ford juga dikenal sebagai seorang yang suka mematri, menyambung potongan besi, dan merangkai kabel untuk membuat mesin.

Di antara beberapa produk mesin yang digemarinya, mobil menjadi produk pertama yang menyita perhatian Ford. Ia mempelajari segala hal tentang mobil. Ketekunannya tersebut terbukti dengan keberhasilan Ford merakit mobil sejak tahun 1891, tepat ketika ia baru berusia 28 tahun. Ia merakit mobil pertamanya di gudang belakang. Setelah itu, ia terus memikirkan cara mengembangkannya. Ford tidak pernah bermalas-malasan belajar mengejar impiannya. Ia mempelajari mobil-mobil yang sudah ada sebelumnya dari para pembuat mobil lainnya. Salah satunya ia belajar pada Ransom E.Olds yang sudah lebih dulu meluncurkan Oldsmobile pertamanya pada tahun 1900.

Kecintaannya pada mesin dan ketertarikannya pada mobil menumbuhkan impian Ford: menciptakan mobil yang tidak mahal dan bisa diproduksi secara masal. Sebagai anak keluarga miskin, ia bisa merasakan bagaimana orang-orang dari kalangannya juga memimpikan bisa naik mobil. Oleh karena itu, menciptakan mobil murah yang bisa digunakan semua kalangan kian menjadi impian terbesarnya. Ford bertekad supaya mobil ciptaannya dapat dimiliki oleh semua kalangan orang biasa, tak hanya bagi orang kaya. Ia ingin memproduksi mobil yang bisa dinikmati kalangan bawah. Pada 1898, Ford membantu mendirikan Detroit Motor Company. Di perusahaan ini ia bekerja tak kenal lelah. Terkadang bahkan sampai malam hari. Bersama perusahaan ini Ford berharap bisa mewujudkan impiannya untuk memproduksi mobil murah. Setelah bekerja selama dua tahun, Ford berusaha meyakinkan rekan kerjanya supaya mau memproduksi mobil dengan harga tidak mahal agar bisa dijual kepada banyak orang. Sayangnya, rekan kerjanya menolak usulan Ford tersebut. Ia gagal meyakinkan rekannya untuk mewujudkan angan-angannya.

“Kegagalan adalah kesempatan untuk mengulangi kembali yang lebih cerdas,” ujar Ford di suatu hari. Tak mau menunda mewujudkan impiannya, Ford kemudian memutuskan keluar dari perusahaan tersebut. Dengan tetap memegang teguh impiannya, ia bekerja keras sangat keras dan fokus mewujudkan impian tersebut. Tak percuma Ford keluar dari Detroit Motor Company, pada tahun 1903 Ford berhasil mendirikan Ford Motor Company.

Bersama Ford Motor Company, ia mulai memproduksi mobil model T berwarna hitam yang pertama kali diluncurkann pada tahun 1908. Mobil tersebut dielu-elukan menjadi “mobil orang Amerika”. Ford pun memenuhi janjinya pada dirinya sendiri untuk tidak menjual mobil produksinya dengan harga tinggi. Mobil model T yang bentuknya begitu elegan dalam kesederhanaan itu dijual dengan harga terjangkau dan diperuntukan semua kalangan. Bukan hanya untuk orang kaya.

Langkah Ford memproduksi “mobil rakyat” tersebut terbukti cerdas. Sejak peluncurannya, mobil tersebut langsung menyita perhatian dunia. Angka penjualannya pun langsung meroket karena banyaknya permintaan dari masyarakat kelas bawah. Di antara lima puluh perusahaan baru yang bergerak di bidang otomotif pada waktu itu, Ford memimpin dalam angka penjualan tertinggi. Sekian lama berjalan, jumlah produksi mobil Ford Motor Company kian naik. Pada tahun pertama, Ford Motor Company hanya memproduksi kurang dari 6000 unit mobil. Jumlah produksi naik berlipat-lipat karena delapan tahun kemudian, perusahaan ini memproduksi lebih dari 500000 mobil. Umumnya, ketika jumlah permintaan naik, perusahaan akan memanfaatkan  tingginya permintaan pasar untuk menaikan harga jual. Namun, rupanya prinsip ini tidak berlaku bagi Ford Motor Company. Perusahaan ini justru menurunkan harga ketika permintaan sedang banyak-banyaknya. Ford Motor Company berhasil memangkas harga jual hingga lebih dari 50%, yang awalnya seharga US $850 menjadi US $360. Kesuksesan Ford menciptakan model T sebagai mobil rakyat pertama sekaligus menunjukkan inovatifnya Ford memadukan teknologi dan keinginan pasar.

Dalam menjalankan pemasaran produknya, Ford menerapkan sistem penjualan dengan model dealer. Model ini menggunakan sistem waralaba, yakni sistem kerjasama dalam bidang usaha dengan bagi hasil sesuai dengan kesepakatan. Empat tahun berselang dari pertama kali “mobil rakyat” diluncurkan, pada tahun 1912 sudah terdapat 17000 dealer Ford di seluruh Amerika Serikat. Sistem pemasaran yang demikian sekarang talah ditiru di beberapa negara.

Setelah berhasil membanngun Ford Motor Company dan mewujudkan impian “mobil rakyat”, Ford mulai melebarkan pandangannya dalam pengembangan pembanggunan yang berhubungan dengan mobil. Ford berupaya meningkatkan infrastruktur otomotif supaya dibangun seiring dengan bertambahnya jumlah mobil. Ford juga mendorong pembangunan pompa bensin di seantero negeri. Pembangunan jalan juga tak luput dari sorotannya. Fordlah satu-satunya pemilik perusahaan mobil yang paling getol mengkampanyekan pembangunan jalan raya yang lebih baik. Salah satu hasil pemikiran Ford yang masih bisa dirasakan orang Amerika hingga kini adalah pembangunan jalan bebas hambatan antar negara bagian yang demikian eloknya.

Impian Ford menjadi kenyataan. Anak seorang petani miskin akhirnya mampu membuat gebrakan dengan menciptakan mobil untuk para kaumnya. Masa lalunya yang sarat akan kesusahan bisa ia tinggalkan. Tak sampai dua puluh tahun, usaha yang dirintis Ford sudah berkembang sedemikian rupa. Pada akhir 1920-an, perusahaan Ford telah berubah menjadi konglomerat. Ia tidak hanya berbisnis di bidang otomotif, namun mulai merambah ke sektor lainnya. Sebagai buktinya, Ford memiliki perkebunan karet di Brazil, armada kapal, jalan kereta api, 16 tamang batu bara, ribuan hektar hutan, serta tambang biji besi di Michigan dan Minnesota. Ford juga mempunyai River Rouge, sebuah pabrik berukuran raksasa yang memperkerjakan lebih dari 100000 orang karyawan. Dengan pencapaian yang sedemikian rupa, Ford layak bangga dengan semua hasil kerja kerasnya. Ketika meninggal di usianya yang ke 83, pada 7 april 1947, Ford tercatat meninggalkan kekayaan pribadi senilai US $500-700 juta. Sebagian sahamnya di Ford Motor Company diwariskan kepada Ford Foundation, sebuah organisasi yang tak berorientasi pada keuntungan miliknya. Organisasi ini tak kalah terkenalnya dengan nama Ford sendiri.

Bisnis Ford sempat menuai kemunduran ketika harus menghadapi inovasi, model, dan warna yang tiada henti. Beruntunglah anak Ford yakni Henry Ford II mewarisi kemampuan bisnis ayahnya. Ia berhasil menyelamatkan Ford Motor Company sehingga bisa tetap sukses dan kompetitif hingga sekarang.

SOICHIRO HONDA

Temukan Kesuksesan Sesungguhnya Pasca Alami Kegagalan

Soichiro Honda lahir dari sebuah keluarga miskin di Iwatagun, Jepang pada 17 November 1906. Ayahnya, bernama Ghei Honda dan ibunya bernama Mika. Iwatagun adalah sebuah daerah kebun teh dan arbei. Di daerah inilah Honda menghabiskan masa kanak-kanaknya. Sebagai anak orang miskin, masa kanak-kanak Honda lebih banyak dihabiskan membantu orang tuanya ketimbang bermain dengan teman-teman sebayanya.

Honda merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Sayangnya, hanya empat saudara kandungnya yang berhasil hidup hingga mencapai umur dewasa karena kelima saudara yang lainnya meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan pengaruh lingkungan yang kumuh. Ayah Honda bekerja sebagai seorang tukang besi yang di kemudian hari mendirikan sebuah bengkel sepeda. Honda sering membantu ayahnya di bengkel tersebut. Sejak kecil, Honda memang sudah terkagum-kagum pada dunia mesin, termasuk mobil. Kegilaannya pada mesin juga ditunjukkan ketika di bengkel ayahnya, ia pernah tertarik dengan sebuah mesin penggiling padi yang berada tidak jauh dari bengkel tersebut. Di usia 8 tahun, ia pernah menggayuh sepeda sejauh 10 mil hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.

Honda kecil yang masih lugu bahkan sudah bercita-cita ingin membuat mobil. Pernah suatu kali, ada mobil lewat desanya, pada waktu itu, mobil masih menjadi barang mewah yang tidak semua orang bisa memilikinya. Honda mengejar mobil tersebut yang pelumasnya menetes di tanah. Ia cium tanah yang basah karena pelumas tadi dan sengaja mengusapkan pelumas itu ke tangan dan lengannya. Saat itu, dalam hati Honda berjanji, suatu saat ia juga akan membuat mobil sendiri.

“Ketika itu saya lupa segalanya, saya kejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya cium tanah yang dibasahinya. Barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas itu saya usapkan ke tangan dan lengan. Mungkin pada saat itulah di dalam hati saya timbul keinginan untuk kelak membuat mobil sendiri. Sejak saat itu kadang-kadang ada mobil datang ke kampung kami. Setiap kali mendengar deru mobil, saya berlari ke jalan, tidak peduli pada saat itu saya sedang menggendong adik.”

Di bidang akademik, Honda tergolong sebagai murid yang biasa-biasa saja. Ia tidak mempunyai otak yang cemerlang dalam mengejakan soal-soal di sekolahnya. Nilai-nilainya tidak pernah bagus. Namun begitu tidak pernah bersedih karena memang ia lebih menyukai dunia mesin dari pada ilmu-ilmu yang diajarkan disekolahnya. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda.”

Honda juga sering malas-malasan berangkat ke sekolah. Saat di kelas, ia selalu dududk di bangku deretan belakang. Ia selalu menjauh dari pandangan guru. Tidak jarang ia juga membolos. Ia pun tidak suka membaca, kalau ada pelajaran mengarang, ia pasti akan kesulitan membuat karangan. Semua pelajaran akan lebih cepat sampai ke otak Honda ketika ia dapatkan pelajaran itu dari mendengarkan daripada membaca. “Sampai sekarang pun saya lebih efesien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak saya,” katanya.

Baru ketika sudah kelas 5, Honda menunjukkan potensinya di bidang sains, bidang yang dekat dengan ketertarikannya pada mesin. Untuk pelajaran sains sekolah dasar di Jepang memang sudah dilengkapi benda-benda seperti beterai, timbangan, tabung reaksi dan mesin. Para murid akan diajak praktik langsung dengan benda-benda ini. Tentu saja Honda suka dengan pelajaran tersebut karena ia bisa lebih mempelajari ketertarikannya di dunia mesin. Tidak seperti pelajaran-pelajaran lainnya, Honda menangkap penjelasan guru dan dengan mudah pula ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan gurunya.

Sesekali, Honda merasa kecil hati bisa mewujudkan impiannya menjadi ahli otomotif. Keluarganya miskin, fisiknya lemah, dan tampangnya juga tidak tampan. Namun, Honda berusaha melawan keminderannya dengan terus belajar tentang mesin. Kecintaannya pada mesin tidak sia-sia. Di usianya yang ke-12 tahun, Honda berhasil membuat sepeda ontel dengan model rem kaki.

Setamat SD, Honda melanjutkan di salah satu sekolah menengah pertama di Futumata. Ketika sudah lulus sekolah menengah, Honda pulang kerumah ayahnya. Ia terkagum-kagum karena usaha pandai besi milik ayahnya sudah beralih menjadi bengkel sepeda. Ia sering berkunjung ke bengkel tersebbut dan membantu pekerjaan ayahnya. Kecintaannya pada mesin, mungkin merupakan warisan dari ayahnya. Di bengkel, ayahnya memberi catut untuk mencabut paku. Ia juga sering bermsin di tempat penggilingan padi melihat mesin disel yang menjadi motor penggeraknya.

Suatu hari, di bengkel ayahnya Honda menemukan sebuah majalah The World of Wheels yang memasang iklan lowongan kerja sebagai montir. Ia mencoba melamar dan diterima bekerja di bengkel tersebut. Tepat di usianya yang ke-15, Honda pergi ke Jepang dan bekerja di Hart Shokai Company. Pemilik bengkel ini terkesan dengan cara kerja Honda yang teliti dan cekatan. Dengan teliti ia memeriksa setiap oli yang bocor atau suara otomotif yang menampakkan adanya tanda-tanda kerusakan. Enam tahun bekerja di bengkel ini menambah wawasan Honda tentang mesin. Pada usia 21 tahun, pemilik bengkel mengusulkan untuk membuka satu kantor cabang di Hamamatsu dan Honda akan ditempatkan disana. Tawaran ini tidak ditampiknya. Selama bekerja, penghasilan yang diterima Honda memang kecil. Posisinya sebagai karyawan menempa Honda menjadi pribadi yang tabah dan tidak gampang menyerah.

Di Hamamatsu, catatan kinerja Honda tetap baik. Ia menerima jasa reparasi beberapa mobil atau motor yang tidak diterima bengkel lain. Honda sangat cekatan memperbaiki mobil pelanggannya. Tak jarang ia harus bekerja hingga larut malam atau bahkan subuh hari. Bengkel tempatnya bekerja di Hamamatsu menuai sukses. Pada masa itu, jari-jari mobil masih terbuat dari kayu. Bahan ini mudah terbakar dan tidak baik untuk meredam goncangan. Honda mempunyai gagasan menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Gagasan Honda diterima sebagai inovasi yang baik di Jepang. Inovasi ini dengan segera telah menjadi komoditas ekspor perusahaan-perusahaan Jepang. Tak hanya ke negara-negara maju, tapi juga ke negara-negara miskin dan berkembang. Dari hasil temuannya tersebut, Honda mendapat keuntungan seribu Yen perbulan di usianya yang baru 25 tahun. Karena temuannya itu pula, di usianya yang ke 30 Honda pertama kali mendapatkan hak paten atas pembuatan jari-jari logam untuk velg mobil.

Setelah berhasil menciptakan ruji roda, Honda ingin berhenti dari pekerjaannya di Hamamatsu. Ia ingin membuka bengkel sendiri. Pada tahun 1938, Honda kemudian mendirikan bengkel yang memproduksi Ring Piston yang diproduksi bengkelnya sendiri. Sayangnya, produksinya itu ditolak Toyota karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur dan tidak laku dijual. Honda ingat bagaimana reaksi teman-temannya terhadap kegagalan yang dialaminya pada waktu itu. Karena kegagalan tersebut, Honda sempat jatuh sakit cukup serius. Baru dua bulan kemudian, kesehatannya pulih dan ia kembali memimpin bengkelnya.

Konsep ring piston masih mengapung-apung dalam pikiran Honda. Ia ingin membuktikan kalau ring piston yang digagasnya merupakan temuan yang layak digunakan. Untuk menemukan jawaban tersebut, Honda memutuskan untuk sekolah lagi supaya dapat memperdalam pengetahuannya tentang mesin. Memang sudah menjadi karakter Honda sebagai orang yang militan. Sepulang sekolah, biasanya ia langsung menuju ke bengkelnya untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang ia peroleh dari kuliahnya di pagi hari. Sayangnya, stelah dua tahun menjadi mahasiswa, Honda di keluarkan dari universitasnya karena jarang mengikuti kuliah. “Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya.” ujar Honda. Segera saja ia menghadap ke rektornya dan menjelaskan bahwa tujuan ia kuliah bukan untuk mencari ijazah, melainkan ilmu pengetahuan. Penjelasan ini malah dianggap sebagai penghinaan oleh rektornya.

Setelah lama bekerja keras memperbaiki desain ring pistonnya, akhirnya Toyota mau menerima desain tersebut. Toyotapun segera mengeluarkan surat kontraknya pada Honda. Honda kemudian muncul niat untuk mendirikan pabrik sendiri. Sayangnya niat tersebut harus terganjal masalah pendanaan. Untuk menyiasatinya, Honda mengumpulkan modal dari beberapa orang untuk mendirikan pabrik yang digagasnya. Setelah pabrik didirikan, nasib naas kembali menimpanya. Perang di Jepang meletus dan pabriknya terbakar dua kali.

Honda tidak patah semangat. Ia justru memanfaatkan situasi pasca perang untuk membuka peluang-peluang baru, dengan semangat ia mengumpulkan para karyawannya mengamil sisa kaleng benzol yang dibuang kapal Amerika Serikat. Sisa kaleng itu akan digunakan bahan mendirikan pabrik. Setelah pabrik didirikan, bencana tak terduga kembali terjadi. Gempa bumi menghancurkan pabriknya. Ia pun memutuskan menjual pabrik ring pistonnya pada Toyota. Setelah itu, Honda sempat mencoba beberapa usaha lain dan semuanya gagal.

Setelah perang, di tahun 1947 kondisi perkonomian Jepang porak-poranda. Honda juga ikut menanggung imbas dari keadaan tersebut. Ia kembali miskin dan bahkan untuk memikirkan perekonomian keluarganya saja susah. Dalam keadaan terdesak, Honda justru menciptakan hal-hal baru yang lebih inovatif. Ketka perang dunia II berkecamuk, banyak sekali rongsokan sepeda berserakan. Honda berinisiatif menggabungkannya dengan motor yang berasal dari mesin pemotong rumput. Sepeda dengan motor itupun mulai populer dan banyak digunakan. “Sepeda motor” itu banyak diminati para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, bahkan sampai Honda kehabisan stok.

Inilah yang menjadi tonggak awal kebangkitan Honda. Ia kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tidak pernah lepas dari tangannya. Mulailah Honda membuat perusahaan dan memproduksi sepeda motor yang diciptakannya dengan kebetulan tersebut secara masal. Di tahun-tahun berikutnya, motor Honda beserta mobilnya berhasil merajai transportasi dunia, termasuk Indonesia. Tidak hanya dalam pengembangan riset teknologi, tetapi juga dalam hal manajemen perusahaan. Salah satunya adalah tentang bagaimana cara ia merekrut karyawannya. Honda sangat menghargai anak-anak muda dan merekrut mereka untuk memberi nafas beru bagi perusahaannya.

Tahun 1973, perusahaan Honda mulai meleburkan diri memproduksi mobil. Karena paham pentingnya regenerasi, saat sudah waktunya turun jabatan, Honda memilih Kyoshi Kawashima menggantikan kedudukannya. Sebelumnya, Kyoshi menjabat sebagai kepala bagian riset perusahaan Honda. Selama masa kepemimpinan Honda, perubahan staf dilakukan sepuluh persen per tahun. Hal itu menunjukkan semakin banyaknya pekerja yang dibutuhkan karena semakin berkembangnya perusahaan. Hingga pensiun, Honda tetap menjadi pemegang saham terbesar di Honda. Penghasilannya mencapai US $1.7 milia. Ia mengaku bahwa perjalanan kariernya diwarnai banyak kegagalan, namun ia tidak pernah menyesal karena telah melakukan banyak kesalahan. Bagi Honda, yang terpenting adalah selalu berusaha memperbaiki kesalahan tersebut dan jangan sampai mengulang kesalahan yang sama. “Banyak orang memimpikan kesuksesan. Bagi saya, kesuksesan hanya bisa diraih melalui banyak kegagalan dan introspeksi diri. Sesungguhya, kesuksesan hanya mewakili 10% dari pekerjaan anda, yang berasal 90% bagian yang dinamakan kegagalan. Orang yang sangat sedikit sedikit belajar dari kegagalan tidak akan pernah mengalami suka cita kesuksesan yang sesungguhnya.

Kepada banyak orang, Honda seringkali mengingatkan supaya jangan sekedar melihat keberhasilan yang ia raih dalam menggeluti industri otomotif. Namun, lihatlah juga kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya.”

J.K. ROWLING

Joanne Kathleen Rowling atau J.K. Rowling dilahirkan pada tanggal 31 Juli 1965 di Chipping Sodbury, Inggris. Namanya melambung setelah novel perdananya terbit pada 1999 lalu. Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, judul novel tersebut, dielu-elukan sebagai novel terbaik sepanjang masa. Wajar saja, novel tersebut masuk daftar New York Times Best-Seller setelah memperoleh peringkat yang sama di negara kelahirannya.

Seri Harry Potter adalah novel anak dan remaja yang berkisah tentang tokoh utama bernama Harry yang tinggal bersama paman, bibi dan sepupunya. Kehidupan Harry bersama mereka tidak berjalan menyenangkan, Ia dianaktirikan. Nasib Harry berubah ketika Ia berusia 11 tahun dan mendapat sebuah surat yang memberitahukan Ia diterima melanjutkan sekolah sihir di Hogwarts. Harry memang keturunan penyihir, ayah dan ibunya adalah penyihir hebat. Petualangan-petualangan dimulai setelah Harry di Hogwarts dan bertemu dengan dua teman sejatinya, Ron dan Hermoine yang juga berjiwa petualang. Hari-hari berikutnya menjadi hari-hari yang penuh petualangan-petualangan seru, menyenangkan, dan teka-teki yang mampu menyihir para pembaca dan penonton filmnya.

Demikian halnya dengan dengan seri novel kedua Harry Potter and the Chamber of Secret dan ketiganya Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Setelah terbitnya tiga novel tersebut, nama J.K Rowling kontan langsung melambung, khususnya di bidang kesussastraan dunia. Ketika seri ke-4, Harry Potter and the Goblet of Fire, diterbitkan pada juli tahun 2000, novel ini juga menjadi buku paling laris sepanjang sejarah. Angka penjualan seri ke-5, ke-6, dan ke-7 juga tak kalah dengan seri-seri sebelumnya.

Berkat melambungnya angka penjualan Harry Potter inilah yang membawa J.K. Rowling menjadi penulis novel terkenal dan menjadi wanita terkaya di Inggris dengan novel terlaris sepanjang masa. Total kekayaannya bahkan melebihi kekayaan ratu Elizabeth II.

Sempat Berpikir Bunuh Diri

Bagaimana proses J.K. Rowling menulis cerita-cerita yang mampu menyihir jutaan pembacanya tersebut? Percayakah Anda, bahwa sebelum diterbitkan pertama kali dan menjadi novel terlaris sepanjang masa, seri pertama Harry Potter and the Sorcerer’s Stone ditolak penerbit selama sembilan kali.

J.K. Rowling memang membutuhkan proses yang tidak mudah menuju kesuksesannya menjadi seorang penulis ternama. Sebelum sukses menerbitkan novelnya, kehidupan J.K. Rowling suram. Ia menjalani kehidupan sebagai wanita yang baru saja bercerai, menganggur, dan hidup dengan bantuan sosial yang tinggal di suatu flat yang dingin. Keadaan ekonomi J.K. Rowling sangat berantakan.

Setelah lulus dari Universitas Exeter, pada tahun 1990 J.K. Rowling pindah ke Portugis. Di sana ia bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Di kota itu pula, ia bertemu dengan seorang wartawan Portugis bernama Jorge Arantes yang kemudian menjadi suaminya pada tahun 1992. Dari pernikahannya ini, keduanya dikaruniai seorang putri yang diberi nama Jessica. Sayangnya, pernikahan ini tidak berjalan lama dan berakhir dengan perceraian di tahun 1993. Sejak bercerai dengan suaminya, J.K. Rowling menjadi ibu tunggal yang harus menghidupi anak dalam kondisi serba kekurangan.

Keadaan yang tak kunjung berubah membuat J.K. Rowling frustasi. Ia bahkan sempat berpikir mengakhiri hidupnya. “Saya pernah punya pikiran bunuh diri.” Pikiran negatif tersebut dapat segera ditepis ketika Ia mengingat Jesica yang masih membutuhkan peranannya. Tekad membesarkan anak menjadi motivasi untuk terus hidup.

Bersama Jesica, J.K. Rowling pindah ke Edinburgh agar bisa tinggal dekat dengan adiknya. Di masa-masa kesulitan ekonomi masih saja menjadi masalah utama dalam hidup J.K. Rowling. Di saat-saat inilah J.K. Rowling mulai menulis cerita sihirnya. Ide menulis cerita diperoleh sewaktu J.K. Rowling melakukan perjalanan menggunakan kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990. Ia menyusun cerita-cerita tersebut dengan kerja keras dalam kondisi hidup sulit.

Meskipun tertatih-tatih, J.K. Rowling merasa kemampuan menulisnya mungkin bisa menjadi jalan keluar untuk hidupnya yang sulit. Sayangnya, untuk mewujudkan harapannya tersebut J.K. Rowling tidak mempunyai fasilitas yang memadai. Ia tidak memiliki komputer dan hanya memiliki mesin ketik yang sudah tua. Ia juga tidak mempunyai uang, bahkan hanya untuk membayar foto kopi. Itulah mengapa, Ia terpaksa mengetik ulang naskah yang sama hingga beberapa kali agar bisa diserahkan ke beberapa penerbit.

Sebagai seorang ibu yang punya seorang bayi, J.K. Rowling juga harus mencuri-curi waktu dengan Jesica. Baru ketika Jesica terlelap tidur, ia akan duduk di meja dan menulis cerita sihirnya. Hingga lahirlah novel pertama Harry Potter and the Sorcerer’s Stone.

“Aku adalah seorang sarjana, aku mempunyai keterampilan, dan aku tahu memiliki prospek jangka panjang yang bagus. Pastilah ini berbeda bagi perempuan yang tidak mempunyai keyakinan untuk keluar dari jerat kemiskinan, mereka tidak mempunyai harapan, yang telah kehilangan kebanggaan diri. Bagiku, setidaknya itu hanya berlangsung dalam enam bulan. Aku menulis sepanjang waktu, yang kemudian sungguh-sungguh menyelamatkan jiwaku. Secepat Jesica terlelap tidur, aku meraih pena dan kertas.”

Setelah selesai menuliskan naskah tersebut, J.K. Rowling menyerahkan naskahnya ke beberapa penerbit. Apakah naskah yang dikirimkan oleh J.K. Rowling langsung mendapat sambutan hangat dari para penerbit tersebut? Tidak. Sebelum diterbitkan oleh Bloomsbury Children’s Book, novel Harry Potter and the Sorcerer’s Stone ditolak penerbit sembilan kali. Baru pada tahun 1997, novel ini akhirnya di terbitkan di Inggris dan diterbitkan ulang oleh Scolastic di Amerika Serikat.

Diselamatkan Harry Potter

Setelah naskah Harry Potter dijual ke Bloomsbury Inggris dan Scolastic Amerika, berbagai penghargaan mulai menyambangi J.K. Rowling. Pada tahun 1999, Ia meraih penghargaan Author of the year. Setahun berikutnya, ia dianugerahi gelar Order of the British Enpire (OBE). Harry Potter juga memenangkan The British Book Awards Children’s Book of the Year dan Smarties Prize.

Seri pertama cerita Harry Potter laris manis dilalap semua kalangan, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Pada tahun 2000, The Chronicle of Higher Education melaporkan bahwa Harry Potter menjadi buku paling populer di universitas-universitas Amerika pada waktu itu. Dua novel berikutnya Harry Potter and the Chamber of Secrets dan Harry Potter and the Prissoner of Azkaban juga langsung diburu para pembaca.

Seri novel kelima, yaitu Harry Potter and the Order of the Phoenix memecahkan rekor sebagai buku terlaris sepanjang masa dan menjadi buku best-seller bahkan sebelum bukunya selesai tulis karena saking banyaknya pembaca yang memesan terlebih dahulu. Seri Harry Potter and the Half Blood Prince juga memegang rekor untuk pembukaan terlaris di seluruh dunia. Seri terakhir, Harry Potter and the Deathly Hallows terjual sebanyak 8,3 juta eksemplar.

Setelah difilmkan, Harry Potter memecahkan rekor sebagai film terbaik sepanjang masa. Tujuh seri film pertamanya meraih untung US $6.300.000.000. Karya-karya J.K. Rowling juga membuat para aktor yang berperan memainkan filmnya menjadi kaya raya. Daniel Radcliffe yang membintangi peran dalam seri Harry Potter menjadi aktor dengan bayaran paling tinggi selama tahun 2000-2009

J.K. Rowling memperoleh laba tahunan tertinggi sebagai penulis cerita anak. Dari yang mulanya hanya seorang ibu tunggal miskin, setelah menerbitkan Harry Potter ia menjadi seorang miliarder di Inggris. Pendapatan tahunannya pada tahun 2007-2008 diperkirakan mencapai US $300 juta sesuai dengan daftar Forbes Celebrity 100 di tahun 2008. J.K. Rowling adalah penulis paling cepat menjadi miliarder dan menjadi satu-satunya penulis perempuan yang berjuang di atas usahanya sendiri.

Dengan data tersebut, tidak diragukan lagi J.K. Rowling telah merebut kesuksesan yang diimpikan. Seri Harry Potter diterjemahkan ke dalam 64 bahasa di seluruh dunia, antara lain Perancis, Jerman, Belanda, Italia, Yunani, Denmark, Jepang dan tidak ketinggalan Indonesia. Menyikapi kesuksesannya, J.K. Rowling mengaku sebenarnya sekarang Ia bisa saja berhenti menulis tanpa perlu cemas akan hidup miskin. Tapi ternyata, bagi J.K. Rowling kesuksesan tidak hanya semata masalah uang. Ia begitu cinta menulis, lagi pula ia tidak menulis demi uang. Ia mampu terus menulis meskipun tidak menjadi terkenal. Tujuan menulis adalah memuskan dirinya sendiri dan para penggemarnya. “Aku tak sungguh-sungguh mengerti. Aku menulis terutama untuk diri sendiri, dan itu mungkin tampak dalam bukuku. Sense of humor dalam buku itu sungguh-sungguh miliku. Buku yang ku tulis, tentu saja, terutama menyangkut sihir, dan sihir yang menarik bagi anak-anak di seluruh dunia.”

Gambaran hidup J.K. Rowling tak jauh dari tokoh rekaan yang diimajinasikannya. Harry yang tak pernah menyerah dan terus berjuang memecahkan beragam teka-teki dan tantangan hidupnya. Begitu juga dengan J.K. Rowling. Saat susah sekalipun, ia tak menyerah pada keadaan dan terus berupaya mengubah hidupnya. “Harry tak pernah menyerah dan terus berjuang menggunakan kombinasi antara intuisi, ketegangan syaraf, dan sedikit keberuntungan.”

Ketekunan dan kerja keras J.K. Rowling pun terbayar lunas dengan pencapaian yang diraihnya. J.K. Rowling memang tidak pernah menyangka apa yang Ia perjuangkan dulu membawa hidupnya seperti sekarang. Namun, sejak awal Ia tahu benar, bahwa di setiap usaha yang dilakukan tanpa menyerah selalu membuahkan hasil.